Tak seperti di Sinetron (Penantian Anugrah Penuh Cinta Bagian 2)

Tak seperti di Sinetron (Penantian Anugrah Penuh Cinta Bagian 2)

Tak ada yang dapat memprediksi dengan pasti, kapan Alloh akan menitipkan rezeki sekaligus amanahnya kepada hamba-Nya. Dipersiapkan atau tidak, jika Alloh sudah berkehendak, maka saat itu pasti akan datang.

Masih ingat ketika pertama kali merasakan hal yang tidak biasa pada perasaan maupun ragaku. Setelah beberapa pekan menghirup wangi udara bumi sakura pada akhir musim panas, akupun merasa ada yang berbeda. Ada yang tak biasa. Tak berapa lama akupun mengalami mual muntah di pagi hari. 

Aku ceritakan pada suami tentang kegelisahanku dan akupun menebak , mungkin saja aku tengah berbadan dua. Jawaban suami sungguh diluar ekspektasi yang sering kutemukan pada sinetron-sinetron picisan di tivi.

“Hmm mungkin masuk angin..”

“Mungkin kecapean”

Emang letih ngapain? Apa bisnis online kecil-kecilanku yang bikin aku sampe pusing? atau malah tugas dari kursus bahasa Jepang gratis seminggu sekaliku yang bikin aku mual? 

Aku melengos, aku tak yakin jika terlalu letih membuatku “merasa berbeda” ini.

“tolong besok belikan testpack ya, Mas”

Haiiii (iya)..” jawabnya tanpa melepas pandangan dari layar yang sedang menampilkan gambar animasi sepakbola, sembari kedua tangannya tetap erat kuat memegang kendali stick controller game.

“ditulis di reminder hp biar ga lupa. urgent!”

haiiiiii..”

Aku kembali ke tumpukan paket-paket bisnis online ku yang besok pagi harus segera aku kirim ke kantor pos terdekat. Alhamdulillah hampir setiap bulan aku mengantarkan paket ke kantor pos dengan mengayuh sepeda angin dengan keranjang sederhana di bagian depannya. Banyak barang-barang dan perabot kami di sini adalah hasil lungsuran para kakak senior dari suamiku yang telah pindah menetap di tanah air.

***

“dah dapat?”

“oh iya, lupa”

Esoknya,

“dah beli?”

“Ngg,, gomen (maaf) tadi agak banyak belanjanya. Jadi kelupaan”

Bhaique.

Dua hari setelahnya, 

“dah ke apotek belum?”

“udah, tapi ga nemu. testpack itu yang bentuknya gimana dan tulisannya apa?”

Allohu Rabbi. Geregetan aku mendengarnya. Kututup pintu kamar dan tarik selimut. “Besok ya, ikut aku ke apotek dan kutunjukkan dimana rak testpack itu.” janjiku di dalam selimut. Dalam hal menemukan barang dan berbelanja, aku yakin jika kaum wanita lebih ahli dari kaum pria.

***

Sesampainya di apotek yang lebih mirip minimarket ini, akupun kini yang kebingungan. Dihadapkan kepada beberapa macam dan brand testpack, yang akupun tak paham apa perbedaan dan kelebihannya satu sama lain. Dan, emm,,harganya pun cukup menukik bagiku yang notebene baru pindah dari Indonesia, negara dengan triliunan barang murah meriah. 

Sejauh yang aku paham, harganya lah yang memberdakan benda berderet di rak susun tiga itu. Ada yang seharga 60.000 dan 80.000 rupiah. Ya! untuk satu testpack saja. Alamak,,mahal kali. Belakangan aku mendapati bahwa di negaraku, alat uji kehamilan hanya dijual sekitar 20ribuan saja. 

Setelah berhasil membawa pulang dua testpack. Kami berdua mengamati karton yang berisi barang tidak biasa itu. Mungkin ini pertama kali kami mengamati secara dekat benda ini. Tentang mengapa membeli dua testpack? hmm,, supaya aku lebih yakin saja.

“satu garis berarti negatif, dua garis berarti positif”, Ujar suamiku mencoba menerjemahkan tulisan di kemasan karton testpack itu.

“positif apa?”

dia melongo, “ya positif hamil lah, emang alat ini buat apaan?”

Aku meringis sambil melenggang yakin ke toilet.

Kali pertama kami mendapati dua garis merah, dalam testpack yang kami beli di warung depan kos. Ekspresi masing-masing dari kami sungguh random. Aku terkagum-kagum tentang bagaimana canggihnya penemuan abad ini yang bisa membuat seiris kecil potongan kertas yang dapat berubah warna menjadi dua garis merah. Aku tatap lekat-lekat, demi memastikan bahwa disana memang benar terlukis dua goresan merah. Tak puas, aku menyalakan semua lampu disekitarku demi memastikan bahwa penglihatanku masih terpercaya 100%.

Aku menghambur ke arah suamiku,

“Mas, alhamdulillah dua garis!”, Jujur sebenarnya aku bingung, harus dengan ekspresi apa aku memberitahu suamiku akan hal ini. Kagetkah, tersenyum manis dan bermata ceria seperti tokoh di anime kah, atau sebaiknya tanpa ekspresi saja.

Dia orang pertama yang kuberi tahu. di tempat tinggal sepetak di tempat merantau ini, hanya dia satu-satunya orang terdekat ku.

“Eh, heh?”, Ekspresinya tak terlukiskan, dan akupun tak terlalu jelas mendapati raut wajahnya. 

“Alhamdulillah dua garis, Mas”

Hening. Tak ada jawaban. Matanya tak lepas dari layar komputer tempat dia mencurahkan seluruh tenaganya, mencari nafkah menghidupiku setelah resmi memintaku dari Ayahku. 

“Mas..”, 

“Ah! iya ta?“, dia tersentak. Kaget. Aku lebih kaget lagi.

“Kenapa Mas?”

Yauda insya Alloh besok ke dokter”, lanjutnya, sambil tak sekalipun melirik ke arahku.

“Mas, nande (ada apa)? Mas kenapa?”

“Hmm, kenapa apanya?”

“Kenapa mas ga tekejut gitu, ga surprise gitu. Ga kayak yang di tipi-tipi gitu”, selorohku.

Bukankah aku mengabarkan berita bahagia. Dan, aku rasa tak ada yang salah.

Aku jadi curiga, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan calon Bapak satu ini? dan apakah bisa mewakili perasaan Bapak-Bapak lain? Kenapa tidak sama dengan sinetron?

#bersambung。

Penampakan Testpack Jepang. Foto diambil dari sini.

 

4 Replies to “Tak seperti di Sinetron (Penantian Anugrah Penuh Cinta Bagian 2)”

    1. wkwkwk iyakah kak De ?. Jadi kepo, yang kelahiran kak Dav ato kak Danesh nih ?
      kak Deee, maturnuwuun sangetttt. ???✨✨✨

Bagaimana tanggapanmu? Mari berbagi ^_^