Enak tapi Dosa

Enak tapi Dosa

~cerita fiksi~
dibacanya santai aja yah, namanya juga cerita?

Enak tapi Dosa

Alkisah, tersebutlah pasangan muda suami istri yang tinggal di negara minoritas dari agama tertentu.

Dengan berbekal keterbatasan bahasa setempat, keterbatasan perkakas memasak dan perabotan lainnya. Hari-hari awalpun mereka habiskan mematung di depan restoran terkenal yang berdiri gagah di dekat petak kos yang mereka sewa.

Rumah makan itu cukup mewah, dengan hidangan bintang lima. Namun, sayang sekali, menu yang mereka tawarkan hanya bertuliskan sandi aksara.

Karena keyakinan mereka yang melarang mendekati dan mengkonsumsi babi dan alkohol, rasanya cukup sulit menemukan makanan yang 100persen sesuai dengan kriteria kebutuhan mereka di negara itu. Plus, tidak paham juga tulisannya, jadilah sepertinya tak ada harapan untuk sekedar mencicipi kemewahannya. 

Hari pun berlalu, bulan sudah beberapa kali berganti purnama. Para wisatawan asing pun semakin sering menginjakkan kaki ke dalam restoran megah itu, sehingga lambat laun, sang pemilik restoran menambahkan menu dan keterangan berbahasa global pada lembar penyajian mereka.

Bukan main senangnya sang istri, serta merta ia memilah dan memilih mana-mana makanan yang hanya berbahan dasar dari sayur mayur dan ikan laut. Semua tampak menggiurkan. Akhirnya setelah sekian lama ‘berpuasa’ tidak jajan di sana, kini ia bisa dengan PEDE nya memesan beberapa menu yang ia yakin komposisinya aman. Di sana tertera tulisan “tahu, terong dan beberapa jenis rempah lainnya”.

Dia pun mantap membeli dua porsi, satu untuk dirinya, dan satu untuk sang suami. Puas menenteng makanan yang sudah lama dia incar, berbekal basmalah, ia pun (masih) dengan percaya diri menghabiskan satu porsi tak bersisa. Sedang porsi lainnya dibiarkannya utuh untuk dipersembahkan kepada sang belahan jiwa. 

Sudah ia siapkan wajah gembiranya, karena akhirnya telah berhasil membeli makanan di restoran mewah itu. Dan sudah ia bayangkan pula wajah berbinar suaminya sambil berkata “aku bangga padamu” yang diikuti penambahan uang belanja si istri agar besok bisa jajan lagi. 

Istri (I)
Suami (S)

I: makanlah, baru aku beli di restoran mewah itu untuk kau.

S: (hanya melirik, mengernyit, lalu tersenyum, sambil berkata…) gimana rasanya? enak?

I: tentu saja. ini yang ku idam2kan sejak lama dan akhirnya kini aku bisa menikmatinya. cobalah, kau juga pasti akan suka.

S: (tersenyum lagi) sudah kau cek komposisinya?

I: iyalah, kau meragukan kemampuan bahasa Inggrisku?

S: coba besok datang ke sana lagi dan ambil gambar tentang tulisan komposisinya.

I: baik, siapa takut.

Esoknya, sang istri kembali ke rumah makan mewah itu hanya untuk memastikan dan mengambil gambar dari komposisi makanan yang ia beli kemarin. Lega.

Dengan sombong ia lihat kembali lekat-lekat foto menu makanan yang ia beli kemarin, lengkap beserta keterangan komposisinya. Tiba-tiba saja jarinya tergelitik, ingin memperbesar gambar yang tertangkap layar telpon genggam usangnya, yang sudah terisi raturan grup rasan-rasan ala ibu-ibu muda jaman now.

Ada satu aksara yang tidak asing, namun bukan dari bahasa global. Itu aksara khas dari negara yang sekarang ia tinggali. Bentuknya seperti familiar sekali, ia perbesar lagi dan menatapnya lekat-lekat, pelan-pelan. 

Memori dari kamus yang ia baca beberapa hari lalupun mencuat, sebentar……aksara itu bermakna DAGING !?

Cepat-cepat ia membuka aplikasi penerjemah online yang ada di barisan atas pada fitur telpon genggamnya, ia klik,salin dan tempel aksara itu, dan tertulis DAGING BABI ??

….

Pantas saja suaminya tak mencolek sesendokpun makanan itu dari kemarin. Namun tak juga serta merta menghardik dan marah. 

Ia mencoba menerka, mungkin sang suami ingin istrinya belajar dan mencari tahu sendiri. Sang suami amat mengenal hati istri yang baperan, sehingga tak ada tutur kasar atau amukan. Walau ia yakin, si istri telah mengukir satu lagi kesalahan. Namun, si istri juga harus belajar, bahwa tidak mudah dan sangat mahal hakikat dari ilmu kehidupan.

Tiba-tiba, terngiang pernyataan suaminya kemarin.

S: enak?

ingin rasanya saat itu juga menjawab,

I: enak sih, tapi dosa ?
Pupus sudah harapan dapat uang saku tambahan.

#cerita ini hanya fiksi semata, mohon tidak menanyakan siapa tokoh utama dibalik cerita ini ?

17 Replies to “Enak tapi Dosa”

  1. Hihi..gimana perasaan istrinya ya mbak pas tahu dia udah salah makan begitu? Pasti kalau bisa pengen banget ngelepeh…hihi. Saya pikir ini ceritanya mbak, tapi katanya nggak boleh nanya…*kabuur ah 😀

  2. Penasaran, gimana diskusi istri pada suami setelah mengetahui komposisi sebenarnya.
    Tantangan banget nyari makanan yg sesuai kaidah yang diyakini di sana ya, mba. #eh 🙂

  3. Hehehe, banyak kok temenku yang muslim, yang begini saat baru tinggal di luar negeri. Gapapa kalo tidak tahu. Asal terus mencari kebenaran dan hati-hati, tidak apa-apa. Nanti pasti terbiasa dan nemu yang benar-benar halal. 🙂

  4. Saya nggak tahu. Apa daginh babi itu rasanya sama aja kayak ayam? Padahal kata guru saya dulu babi itu banyak cacingnya karena itu haram. Tiap membayangkan cacing-cacing itu saya jadi geli sendiri, soalnya saya takut bangrt sama ulat dan cacing😬

Bagaimana tanggapanmu? Mari berbagi ^_^