Penantian Anugerah penuh Cinta

Penantian Anugerah penuh Cinta

Rintik hujan berkejaran membasahi dahan pohon yang sedang menunggu datangnya kuncup baru. Musim hujan adalah aba-aba dari alam, kedatangannya sebagai pertanda dalam menyelesaikan musim sebelumnya dan menyambut musim baru yang selalu terasa lebih menawan. Semerbak aroma kuncup bunga seakan memberitahu  dunia bahwa musim dingin telah usai dan akan digantikan dengan pesona musim semi. Hangat dan indah. Musim semi selalu berhasil menawan hatiku, apalagi sejak aku dipertemukan dengan seseorang yang menjadi imamku saat ini dan sesuatu yang istimewa akan datang di musim bunga bermekaran ini. Masya Alloh.

Kalender sudah menunjukkan lembaran ketiga, awal musim semi tahun ini nampaknya lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa tanaman bunga di pekarangan sudah mulai menunjukkan kemolekan bunganya yang merekah berwarna-warni. Indah. Musim semi adalah salah satu musim yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat negeri ini. Momen dimana semua kehidupan baru bermula. Gegap gempita, gusar, semangat, haru, bahagia dan berbagai perasaan excited lainnya ada. Perasaan yang dipupuk sedemikian rupa dari bulan dan musim sebelumnya untuk menyambut banyak hal di musim ini. Pada musim semi, tahun ajaran baru sekolah dimulai, para siswa baru sigap datang sekolah lebih awal untuk mengikuti penyambutan siswa baru, para mahasiswa baru siap mengikuti upacara hari pertama mereka di universitas.

Bulan Maret pertanda kehamilanku menginjak bulan ke-delapan. Beberapa pekan lagi aku akan bisa menemui malaikat kecil yang tengah Alloh persiapkan di tengah-tengah keluaga kecil kami yang baru seumur jagung merantau di negeri yang cukup jauh dari nusantara ini. Pada bulan ini, tetangga sekaligus kawan dekat kami yang kebetulan sesama warga Indonesia pun akan melahirkan bayi pertama nya. Salah satu senior kami yang tinggal tak jauh dari kontrakan kami pun juga ada yang tengah mengandung putra pertamanya, HPL (hari perkiraan lahir) beliau diprediksi dua bulan lagi. Sementara aku, insya Alloh bulan depan akan menyongsong anugerah kecil yang akupun tak kuasa menebak bagimana rupa dan parasnya. Sungguh momen yang penuh dengan rasa yang bercampur aduk. Takut, gembira, senang, ragu, dan tentu saja penuh syukur. 

Sejak saling tahu kehamilan masing-masing, kami selalu saling menguatkan dan tak jarang berbarengan ke Rumah Sakit untuk check up demi sekedar “menjenguk” si Jabang Bayi. Yaa Alloh,, mengenang masa itu sama seperti memutar kembali memori  kenangan saat itu, yang menyenangkan sekaligus bikin deg-degan. Sama-sama pengalaman pertama kami mengandung amanah Alloh SWT, di bagian bumi yang cukup jauh dari keluarga. Disaat seperti ini, selain Alloh dan suami, sebaik-baiknya keluarga adalah tetangga sesama warga Indonesia, yang tinggal dan mengais rahmat-Nya di tanah perantauan ini.

Tak terhitung rasanya, berkali-kali aku merepotkan dan meminta segala ilmu maupun nasihat dari kakak-kakak senior selama di Jepang. Dari ilmu tentang ngidam, asam folat, kontraksi palsu hingga supply catering harian oleh kakak-kakak yang masya Alloh baikk sekali walaupun baru kenal beberapa hari. Terima kasih Yaa Alloh.

Hari pun berganti, kawan dekatku akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang sangat lucu dan menggemaskan sekali, masya Alloh. Kelahiran bayi ganteng itu sekaligus sebagai “alarm” bahwa sebentar lagi giliranku tiba. Yaa Alloh, mohon kuatkan kami. 

Ketika hari kelahiran bayi laki-laki itu, kami semua warga Indonesia di sini sangat merasa senang dan bahagia, beberapa anggota keluarga dari kawan kami yang tengah menyambut buah hati itu pun turut serta datang. Jauh melewati ribuan kilometer perjalanan dari Indonesia, demi menyambut hari-hari pertama sang bayi yang baru berusia beberapa jam itu. 

Rasanya hari itu penuh cinta dan penuh deg-degan juga buat ku. Suami tak henti menggoda bahwa sebentar lagi giliranku melahirkan si “anugerah tercinta“. 

“Apa kamu udah siap?” candanya,

Aku bergeming, entah kenapa saat itu, pertanyaan renyah itu sama sekali tak terasa menggelitik.

“Keluarga ada yang bisa ke sini kah, Mas?”, tanyaku tanpa menanggapi pertanyaan Suami.

Gomen (maaf),,,”, 

mimik wajah candanya berubah menjadi serius, dengan tarikan di ujung bibir yang ia upayakan bisa sedikit menenangkan kegelisahanku. 

Kayaknya ga ada. ga papa ya, Bismillah… ishhouni ganbarou! (ayo berjuang sama-sama ya!)” jawabnya sambil menatap mataku lekat-lekat.

Perlahan ada yang mengambang di pelupuk mata, lalu jatuh secara lembut menyapu permukaan pipi. Perasaan yang tak dapat dilukiskan kembali hadir saat itu.

Mampukah kami?

Bisakah kami?

Siapa yang membantu kami di hari-hari awal kelahiran si kecil nanti?

Berjuta pertanyaan menggelayut bebas, saat-saat seperti ini setan sungguh bebas menebarkan ranjau keraguan akan kuasa-Nya. Menutup perlahan rasa syukur yang seharusnya membuncah hebat di saat-saat penantian seperti ini.

Yaa Alloh Yaa Hafidz, Tuhan kami yang Maha Memelihara, Engkau Maha Segalanya, mohon bantu kami Ya Alloh.

#bersambung.

#akulagisukamenulis

 

4 Replies to “Penantian Anugerah penuh Cinta”

    1. sodarikuu yg shalihah ???maturnuwun sangettt sdh brkenan mampir ??
      betul dek.Alhamdulillah, masya Alloh tabarakallohuharus yakin sama pertolongan Alloh dlm masalah apapun ⭐️
      sekali lagi maturnuwun sangettt ????

Bagaimana tanggapanmu? Mari berbagi ^_^