Omatsuri : Serunya Festival dan Pasar Rakyat Musim Semi di Jepang

Omatsuri : Serunya Festival dan Pasar Rakyat Musim Semi di Jepang

⛩“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, peribahasa ini yang selama ini berusaha saya terapkan selama mencari serpihan ilmu-Nya di negeri Sakura🌸.

Menjadi yang ‘berbeda’ dan ‘minoritas’ mungkin adalah label yang tepat bagi warga Indonesia Muslim di sini. ‘Berbeda’ dari penampilan fisik dengan penduduk asli, dan ‘minoritas’ dalam menjalankan perintah agama Islam yang masih tergolong “baru” di sini. 

✨Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Dari pindahan apato (rumah kos), perpisahan dengan tetangga yang harus kembali mengabdi ke Indonesia, dan kehadiran si kecil yang mulai semangat belajar hal baru di sekitarnya, menjadi beberapa poin penting dalam kehidupan saya. 

🕌Tinggal tak jauh dari salah satu Masjid di Jepang, menjadi keberuntungan dan keberkahan bagi kami sekeluarga. Tidak sulit menemukan deretan toko Halal yang siap menyetok kebutuhan buah kurma saat Ramadhan tiba, rumah makan Halal yang selalu terbuka menyambut ifthar keluarga, bahkan tetangga Indonesia Muslim yang sesekali bisa diketuk pintu apatonya untuk sekedar berbagi sedikit terasi atau ind*mi.

✨Tepat sehari sebelum Ramadhan, di area stasiun dekat rumah kami diadakan Omatsuri atau Festival dan Bazar dalam menyemarakkan Golden Week. Cuaca cerah bersinar membuat angin musim semi yang masih cukup kencang jadi terasa sedikit lebih hangat. Waktu yang pas dalam merayakan pergantian musim dan pergantian Era di Jepang. Saya yang rindu akan suasana ‘megengan/munggahan’, kegiatan budaya khas Jawa sebagai penanda menyambut bulan suci Ramadan, pun sangat antusias menghadiri Pesta Rakyat ini. Dalam hati kecil saya, saya anggap ini juga merupakan salah satu acara ‘penyambut’ Ramadhan. Kesedihan yang awalnya menggelayut karena rindu dengan keluarga di tanah air, bisa sedikit terobati dengan keramaian Matsuri(festival) kali ini. 

Baca Juga : 

Omikoshi, Icon wajib Festival Rakyat di Jepang

Kashiwamochi: Sajian persembahan Dewa pada Hari Anak Laki-Laki

Tepat jam 10 pagi para stan sudah mulai bersiap-siap menggelar dagangannya. Karena masih pagi dan acara belum dimulai, saya dan si kecil pun melipir ke taman bunga tak jauh dari tempat acara digelar. Dan, masya Alloh, bunga-bunga musim semi pun sedang merekah sangat indah di bawah terik matahari dan hembusan dingin angin musim semi. Puas menikmati taman bunga, kami pun berbelok ke salah satu department store untuk membeli keperluan harian. Sembari menengok arah jarum jam yang sudah menunjukkan tengah hari, angkah kaki pun menuntun kami kembali ke arena Pasar Rakyat yang siang itu pasti sudah ramai pengunjung. 

bunga mawar sebesar telapak tangan. Masya Alloh
bunga mawar di hijab si kecil sama dengan bunga mawar yang asli yah. 😀 Masya Alloh

🍀Karena momennya tepat sehari sebelum Puasa Ramadhan, saya pun mencoba membeli cemilan khas Negeri Matahari Terbit ini. Untuk membeli cemilan harus hati-hati, dikarenakan ada batasan bagi kita untuk tidak membeli produk daging kecuali yang kita yakin itu halal, maka pilihan saya jatuh pada Cucumber on a stick, alias Mentimun dingin yang ditusuk dengan stik. Stik tersebut digunakan untuk memegang, agar tangan tidak menyentuh buah mentimun langsung. 🥒

🥒Cemilan yang aneh, pikir saya. Dan lebih anehnya lagi, street food satu ini laris manis dan habis terjual dalam beberapa menit saja. Hey, ini hanya mentimun mentah yang dimakan begitu saja. Apa yang istimewa ?🥒

cucumber on stick!

Tiba-tiba saya teringat bahwa, Aisyah radiallohu anha, salah seorang Ummul Mukminin masyhur yang dijadikan panutan jutaan manusia, mengkonsumsi mentimun sebagai salah satu rahasia pembentuk tubuh ideal beliau. Dengan berbekal hal itu dan sedikit rasa penasaran, saya coba membeli cemilan mentimun ala Jepang ini, dan masya Alloh memang segar sekali rasanya jika dikonsumsi pada siang terik begini. Lucu juga ya! hehe

Pada Pasar Rakyat tersebut banyak sekali stan yang menjual makanan tradisional Jepang, umumnya adalah makanan dan kebanyakan tidak bisa saya makan/ konsumsi karena berbahan dasar daging-dagingan. huhu T_T sedikit sedih karena tidak bisa mencicipi aneka makanan tradisional yang hanya muncul ketika Pasar Rakyat seperti ini berlangsung, namun juga senang karena dompet tidak jadi menipis karena kebanyakan jajan 😀

Penjual Cucumber on stick!
aneka seafood yang dibakar khas Jepang
aneka minuman dingin
aneka buah segar
sepatu import pun ada!
satay! anyone?
Umumnya para stan menempatkan kantong sampah di depan stan mereka, demi memudahkan pelanggan membuang sisa atau wadah makanan usai mereka gunakan.
ada Matcha dan milk tea tapioka plus kakigori (es serut Jepang). Yummy!
sejenis seafood? geser ke bawah untuk memperbesar. kira-kira jual apa ya~~~
taraa!
ada makanan import juga. hehe

Selain makanan, suasana Pasar Rakyat pun diwarnai dengan stan lotere keberuntungan, permainan catur khas Jepang, stan mainan anak-anak yang hampir tak pernah sepi pembeli, stan edukasi anak-anak tentang mengenal hewan dan tumbuhan, juga ada panggung hiburan rakyat yang menyajikan beragam pertunjukkan yang menarik pengunjung untuk merapat.

Bukan Jepang namanya jika dalam suatu acara tidak menyiapkan tempat sampah. Selain tempat sampah yang disiapkan oleh masing-masing stan, panitia juga menyiapkan tempat sampah dari kardus yang dibagi menurut penggolongan sampah masing-masing secara umum. Sampah terbakar, tidak mudah terbakar, botol plastik/pet, dan kaleng. 

kotak sampah dan penggolongannya.

Baca Juga : 

Jidouhanbaiki : Si Kotak Ajaib dodol sembarang kalir

Lemari-lemari lucu ini ternyata isinya SAMPAH !!!

🧕Dalam festival tersebut, sudah dapat dipastikan saya dan putri saya yang mengenakan jilbab, menjadi salah satu yang menarik perhatian masyarakat yang berbaur dalam kemeriahan acara. Dengan kemampuan bahasa Jepang yang seadanya, kami berdua berusaha senyum dan menyapa mereka yang juga melempar senyum dengan tatapan keheranan kepada kami. Ada juga seorang Paman bergitar (bukan ksatria bergitar xD) yang menghampiri kami, lalu mengajak si kecil bernyayi beberapa lagu anak Jepang, salah satunya lagu soundtrack DORAEMON haha xD. adakah Tante Om di sini yang hafal ? 😀

 Ternyata beliau juga tertarik dengan kerudung si kecil. hehe. Awalnya Paman tersebut mengira kami berasal dari India, namun setelah kami bercerita bahwa kami berasal dari Indonesia, beliau pun teringat akan salah satu kerabat beliau yang kebetulan sedang perjalanan bisnis ke Indonesia.

🤩Dari sedikit perbincangan sederhana dengan beberapa pengunjung.  Sebagian yang lain pun meminta ijin memegang kerudung si kecil, dan bertanya “apa nama penutup kepala ini?”, “apa semua orang Indonesia pakai ini?”, “apa tidak gerah?” dan “dimana ya beli ini?”. Pertanyaan yang terakhir ini agaknya sedikit membangkitkan jiwa berdagang saya 😅.

selain disediakan banyak tempat duduk dan meja untuk pengunjung. Disediakan tempat juga untuk makan sambil berdiri, ala-ala standing party gitu. hehe~

✨Sepulang dari festival tersebut, kami pergi ke toko Halal untuk membeli bahan persiapan sahur. Dalam perjalanan pulang, kami menyenandungkan sholawat dan surat-surat pendek, sembari memantapkan niat dan do’a agar Ibadah Puasa Ramadhan kami di negeri rantau kali ini selalu dalam berkah dan lindungan-Nya🤲🙏💖.

si kecil menagih janji untuk main di stan pancing bola air xD masya Alloh

Kenangan menelusuri nikmat Alloh di negeri rantau ini, selain diikutkan dalam sayembara menulis Fahima Jepang, juga bertujuan agar kelak dapat menjadi kenangan dan pemupuk rasa syukur ketika iman sedang berada di titik futur.

Dan semoga ada manfaat serta berkah bagi teman-teman pembaca sekalian ^~^

Terima kasih sudah berkenan membaca dan mampir ke Pesta Rakyat kali ini ^_^

24 Replies to “Omatsuri : Serunya Festival dan Pasar Rakyat Musim Semi di Jepang”

    1. terima kasih bnyak mb Lia Yuliani ?.. betul2 mbak, cemilanny unik dan mudah dicoba bikin sndri di rumah. hehe ^^

  1. Duhhh mbak, saya selalu suka baca cerita mba Vidya tentang Jepang. Membuat impian masa kecil saya untuk ke Jepang semakin menggoda iman kembali hihihiiii…
    Btw, itu kerudung si kecil saliha memang cantik sekali bahannya, wajar klo banyak yg suka 🙂

    1. mbak terima kasih bnyakk, sy jg suka kl dikomen mbak Hastin ????smoga segera diijabah main ke Jepang y mb cantik ^^

      hihi iy mb. terima kasih bnyk ??

  2. Memang Jepang ini teladan dalam hal kebersihan, ya. Kalau ada pasar rakyat di sini, udah deh sampahnya dimana-mana, hehe. Melihat dan membaca ini jadi terkagum-kagum. Jadi tahu juga snack favorit Cucumber on Stick, hehe.
    Pastinya jadi momen Ramadan istimewa ya, Mbak. Seneng deh jilbabnya si kecil jadi perhatian. Dakwah secara sederhana tuh 🙂

  3. Jilbab si kecil emang bagus mbak, lucuuuu gitu. Tapi sekarang orang orang udah open minded dan nggak memandang buruk orang berjilbab alhamdulillah ya mbak..kalau timun disunduki mah di sini juga ada ya. Hihi. Ah, serrrrru kali. Semoga one day aku juga bisa tingggal di luar negeri. Ku ingin tinggal di Aussie! Aamiin..

  4. Maa syaa Allaah jalan-jalan ke Festivalnya seru banget yaa Mbak, walau cuma ditemani si Kecil. Btw itu beneran cemilannya hanya mentimun segar yang ditusuk stick, Mbak? Aneh yah tapi sekaligus unik.

Bagaimana tanggapanmu? Mari berbagi ^_^